Hubungi kami!

Hasil Kegiatan

A. Indikator Area Klinis (IAK)


1. Persentase Kelengkapan Pengkajian Awal Medik Pasien Rawat Inap Dalam 25 Jam.

Interpretasi Data :
Dari grafik di atas, dapat dijelaskan bahwa untuk mengevaluasi kepatuhan DPJP, dapat dilihat dari form Clinical Pathway yang ditetapkan, dimana ada 3 penilaian inti yang diobservasi dari clinical pathway, yaitu pengkajian assessment awal medic pasien dalam 24 jam, namun karena terlalu banyak pasien menyebabkan DPJP tidak sempat mengisi assessment awal medic ,sehingga capaian persentase kelengkapan pengkajian awal medik pasien dalam 24 jam pada kasus TB Paru adalah 99 %, pada kasus Bronchitis adalah 100 %, kasus Bronchiectasis adalah 100 %, kasus Bronchopneumonia adalah 99 % dan Abses Paru adalah 100 %.

2. Kelengkapan Penggunaa APD Pada Ruang Rawat Inap Penyakit Infeksi Paru.

Interpretasi Data :
Dari grafik di atas dapat dijelaskan bahwa untuk 5 area prioritas, didapatkan data sebagai berikut :
Pada 5 area prioritas klinis, masih terdapat kekurangan dalam kepatuhan penggunaan APD pada ruang rawat inap penyakit infeksi paru, dimana kasus TB Paru adalah 88,50 %, pada kasus Bronchitis adalah 88,50 %, kasus Bronchiectasis adalah 88,50 %, kasus Bronchopneumonia adalah 88,50 % dan Abses Paru adalah 88,50 %.

3. Ketepatan Pelaporan hasil pemeriksaan Sputum dalam 48 jam. 

ketepatan pelaporan hasil

Interpretasi Data :
Dari grafik di atas dapat dijelaskan bahwa untuk 5 area prioritas, didapatkan data sebagai berikut :
Pada 5 area prioritas klinis, ketepatan pelaporan hasil pemeriksaan sputum dalam 48 jam sudah sangat baik, dimana kasus TB Paru adalah 100 %, pada kasus Bronchitis adalah 100 %,kasus Bronchiectasis adalah 100 %, kasus Bronchopneumonia adalah 100 % dan Abses Paru adalah 100 %.

4. Waktu tunggu hasil pelayanan foto thorax.

waktu tunggu hasil indikator mutu

Interpretasi Data :
Dari grafik di atas dapat dijelaskan bahwa untuk 5 area prioritas, didapatkan data sebagai berikut :
Pada 5 area prioritas klinis, waktu tunggu pelayanan foto thorax dengan targetnya 3jam,dimana capaian waktu tunggu pelayanan foto thorax pada kasus TB Paru adalah 1.30 Jam, pada kasus Bronchitis adalah 1.30 Jam,kasus Bronchiectasis adalah 1.30 Jam, kasus Bronchopneumonia adalah 1.30 Jam dan Abses Paru adalah 1.30 Jam.

5. Kelengkapan pengisian berkas rekam medik 24 Jam setelah selesai pelayanan rawat inap.

kelengkapan pengisian berkas rekam medik

Interpretasi Data :
Dari grafik di atas dapat dijelaskan bahwa untuk 5 area prioritas, didapatkan data sebagai berikut :
Pada 5 area prioritas klinis, kelengkapan pengisian berkas rekam medik 24 jam setelah selesai pelayanan rawat inap sudah lengkap,pada kasus TB Paru adalah 100%, pada kasus Bronchitis adalah 100%,kasus Bronchiectasis adalah 100%, kasus Bronchopneumonia adalah 100% dan Abses Paru adalah 100%.

6. Kelengkapan pengisian formulir edukasi pasien dan keluarga pada saat pelayanan rawat inap.

kelengkapan pengisian formulir

Interpretasi Data :
Dari grafik di atas dapat dijelaskan bahwa untuk 5 area prioritas, didapatkan data sebagai berikut :
Pada 5 area prioritas klinis, kelengkapan pengisian formulir edukasi pasien dan keluarga pada saat pelayanan rawat inap sudah lengkap,pada kasus TB Paru adalah 100%, pada kasus Bronchitis adalah 100%,kasus Bronchiectasis adalah 100%, kasus Bronchopneumonia adalah 100% dan Abses Paru adalah 100%.

B. INDIKATOR AREA MANAJEMEN (IAM)

DAFTAR INDIKATOR AREA MANAJEMEN (IAM)
AREA PRIORITAS MUTU PELAYANAN

daftar indikator area manajemen

indikator mutu manajerial

Interpretasi data :
Dari grafik di atas, dapat dijelaskan bahwa :
1. Dari hasil survey ketersediaan obat penting untuk kebutuhan pasien infeksi paru, didapatkan hasil sebanyak 100 % pada pasien Tb Paru
2. Ketersediaan APD sesuai daftar rekomendasi penggunaan ,didapatkan hasil sebanyak 100 % pada pasien Tb Paru.
3. Penggunaan APD pada area berisiko , didapatkan hasil sebanyak 86,17 % pada pasien Tb Paru
4. Edukasi Handhygiene, didapatkan hasil sebanyak 100 % pada pasien Tb Paru.

indikator mutu manajerial bronchitis

Interpretasi Data :
Dari grafik di atas, dapat dijelaskan bahwa :
1. Dari hasil survey ketersediaan obat penting untuk kebutuhan pasien infeksi paru, didapatkan hasil sebanyak 100 % pada pasien Bronchitis
2. Ketersediaan APD sesuai daftar rekomendasi penggunaan , didapatkan hasil sebanyak 100 % pada pasien Bronchitis.
3. Penggunaan APD pada area berisiko , didapatkan hasil sebanyak 86,17 % pada pasien Bronchitis.
4. Edukasi Handhygiene , didapatkan hasil sebanyak 100 % pada pasien Bronchitis.

indikator mutu manajerial bronchitis2

Interpretasi Data :
Dari grafik di atas, dapat dijelaskan bahwa :
1. Dari hasil survey ketersediaan obat penting untuk kebutuhan pasien infeksi paru, didapatkan hasil sebanyak 100 % pada pasien Bronchiectasis
2. Ketersediaan APD sesuai daftar rekomendasi penggunaan , didapatkan hasil sebanyak 100 % pada pasien Bronchiectasis.
3. Penggunaan APD pada area berisiko , didapatkan hasil sebanyak 86,17 % pada pasien Bronchiectasis.
4. Edukasi Handhygiene , didapatkan hasil sebanyak 100 % pada pasien Bronchiectasis.

indikator mutu manajerial bronchopneumonia

Interpretasi Data :
Dari grafik di atas, dapat dijelaskan bahwa :
1. Dari hasil survey ketersediaan obat penting untuk kebutuhan pasien infeksi paru, didapatkan hasil sebanyak 100 % pada pasien Bronchopneumonia
2. Ketersediaan APD sesuai daftar rekomendasi penggunaan , didapatkan hasil sebanyak 100 % pada pasien Bronchopneumonia.
3. Penggunaan APD pada area berisiko , didapatkan hasil sebanyak 86,17 % pada pasien Bronchopneumonia.
4. Edukasi Handhygiene , didapatkan hasil sebanyak 100 % pada pasien Bronchopneumonia.

indikator mutu manajerial abses paru

Interpretasi Data :
Dari grafik di atas, dapat dijelaskan bahwa :
1. Dari hasil survey ketersediaan obat penting untuk kebutuhan pasien infeksi paru, didapatkan hasil sebanyak 100 % pada pasien Abses Paru.
2. Ketersediaan APD sesuai daftar rekomendasi penggunaan , didapatkan hasil sebanyak 100 % pada pasien Abses Paru.
3. Penggunaan APD pada area berisiko , didapatkan hasil sebanyak 86,17 % pada pasien Abses Paru.
4. Edukasi Handhygiene , didapatkan hasil sebanyak 100 % pada pasien Abses Paru.